“Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah bekerja keras dalam membantu upaya pelepasliaran kedua orangutan ini mulai dari penyelamatan, rehabilitasi sampai dengan pelepasliaran sehingga berjalan dengan lancar dan sesuai prosedur,” tutup Wiwied.
Kedua orangutan telah menjalani rehabilitasi selama tiga hingga empat tahun.
Selama dua tahun terakhir, mereka menjalani proses pengenalan alam di Sekolah Hutan Tembak di Jerora, di mana mereka belajar kemampuan lokomosi, mengenal berbagai jenis pakan, serta keterampilan membuat dan merenovasi sarang.
Pelepasliaran kali ini melibatkan banyak pihak dan elemen masyarakat, termasuk para stakeholder dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu, Pengadilan Negeri, tokoh adat, perangkat desa, masyarakat peduli konservasi, kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Datah Dian, kader konservasi, serta masyarakat sekitar Taman Nasional Betung Kerihun Danau Sentarum.
Tokoh adat Giling menyatakan kegembiraannya atas kegiatan pelepasliaran ini.
“Semoga kedua orangutan ini dapat hidup senang di alamnya,” ujarnya.
Kader konservasi Kesia Bong Sukhin juga menyampaikan perasaannya, turut merasakan tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan orangutan, mamalia paling cerdas yang menjaga ekosistem hutan kita.
Kepala BBTNBKDS, Sadtata Noor Adirahmanta, menekankan pentingnya melibatkan berbagai pihak dalam konservasi.
“Pelibatan stakeholder dan elemen masyarakat bertujuan membangkitkan nilai-nilai konservasi dan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap pelestarian alam,” katanya.














https://wa.me/message/BCEUFAL7LBUZJ1
Ucapan Lebaran 2026