MJO adalah fenomena dinamika atmosfer yang mempengaruhi pola cuaca dengan meningkatkan kemungkinan hujan intens meski di musim kemarau.
Dwikorita menambahkan, fenomena MJO, Rossby Equatorial, dan Kelvin aktif di Indonesia bagian tengah dan selatan sejak 28 Juni, sehingga BMKG telah mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat.
Wilayah seperti Sumatra bagian selatan, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian selatan mengalami peningkatan curah hujan.
Selain itu, tipe hujan di Indonesia dipengaruhi oleh topografi wilayah yang beragam, seperti daerah pegunungan dan pantai, yang menambah keragaman iklim.
Kondisi ini membagi Indonesia menjadi banyak zona musim dengan periode waktu terjadinya musim hujan dan kemarau yang berbeda-beda.
Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto, mengatakan bahwa peningkatan curah hujan di awal musim kemarau ini disebabkan oleh aktivitas MJO, Gelombang Kelvin, dan Rossby Equatorial, serta suhu permukaan laut yang hangat di perairan sekitar Indonesia.
Kondisi ini mendukung pertumbuhan awan hujan signifikan di wilayah tersebut.
BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akan terjadi pada 8-10 Juli 2024 di sebagian besar Sumatra, Jawa bagian barat, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Pada 11-14 Juli 2024, potensi hujan sedang-lebat akan terjadi di Sumatra bagian utara, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Guswanto mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan melakukan antisipasi dini terhadap cuaca ekstrem yang masih bisa terjadi, seperti hujan lebat, kilat/petir, angin kencang, angin puting beliung, dan hujan es.***
















https://wa.me/message/BCEUFAL7LBUZJ1
Ucapan Lebaran 2026