Salah satu titik kehancuran paling krusial dalam laporan tersebut berada di markas besar Angkatan Laut Amerika Serikat yang berlokasi di Bahrain.
Selain meruntuhkan gedung utama pangkalan, puluhan pesawat militer yang sedang terparkir di apron dilaporkan mengalami kerusakan berat akibat gelombang ledakan hebat.
Mengenai dampak manusia, tercatat sebanyak 13 personel militer Amerika Serikat gugur dalam rangkaian serangan udara beruntun tersebut.
Selain korban jiwa, sekitar 400 personel militer lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat dampak ledakan di lokasi kejadian.
Pihak Pentagon mengklaim bahwa lebih dari 90 persen personel yang terluka kini telah dinyatakan pulih dan kembali bertugas menjalankan misi operasional.
Di sisi lain, laporan dari Center for Strategic and International Studies menyoroti masalah serius terkait cadangan persenjataan pertahanan Amerika Serikat yang mulai menipis kritis.
Selama tujuh minggu masa perang berkecamuk, militer Amerika Serikat dilaporkan telah menguras 45 persen dari total stok rudal berpemandu presisi nasional.
Kondisi darurat tersebut diperparah dengan terkurasnya 50 persen persediaan rudal pencegat Patriot yang menjadi andalan utama pertahanan udara pangkalan.
Selain itu, militer Amerika Serikat juga telah menggunakan sekitar 30 persen dari total stok rudal jelajah taktis jenis Tomahawk untuk menghalau serangan udara.
Dengan kapasitas produksi industri pertahanan saat ini, Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 5 tahun hanya untuk memulihkan cadangan amunisi ke level aman semula.***















https://wa.me/message/BCEUFAL7LBUZJ1
Ucapan Lebaran 2026