Dalam paparannya, Dwikorita menyebutkan bahwa suhu global telah naik 1,45 derajat di atas rata-rata periode pra-industri tahun 1850-1900.
Hal ini menyebabkan kenaikan muka air laut yang semakin cepat dari dekade ke dekade.
Kenaikan rata-rata muka air laut global mencapai 2,1 mm per tahun antara 1993 dan 2002, kemudian melonjak menjadi 4,4 mm per tahun antara 2013 dan 2021.
Lonjakan ini sebagian besar disebabkan oleh pencairan es di kutub yang dipercepat oleh mencairnya gletser dan lapisan es laut.
“Situasi ini sangat serius dan memerlukan respons yang serius pula,” ujar Dwikorita.
Sejak tahun 2017, Indonesia melalui BMKG telah bekerja sama dengan negara-negara kepulauan di Kawasan Pasifik untuk menghadapi kenaikan muka air laut.
Negara-negara kecil kepulauan yang sangat terancam oleh perubahan iklim mendapatkan pelatihan tentang prakiraan cuaca numerik, tinggi gelombang, monitoring kekeringan, serta program terkait keamanan wilayah pesisir, penilaian risiko, dan sistem peringatan dini.
BMKG telah menjalin kerja sama dengan negara-negara seperti Papua Nugini, Tonga, dan Kepulauan Solomon.
Selain itu, Dwikorita menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan dan terstandarisasi dalam sistem pengukuran kenaikan muka air laut.
Ia juga menyerukan perlunya sinergi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir tanpa mengabaikan kearifan lokal.
Dengan langkah-langkah ini, ancaman bencana dapat diminimalisir dan diantisipasi secara maksimal.
Artikel ini telah diparafrase dan dimodifikasi dari sumber aslinya di laman BMKG. (*)
















https://wa.me/message/BCEUFAL7LBUZJ1
Ucapan Lebaran 2026